๐ณ๐ธ๐ฑ๐ฐ๐ป๐ธ๐บ ๐ป๐ฐ๐๐ฐ๐ฝ๐ถ๐ฐ๐ฝ ๐ผ๐ด๐ฝ๐๐ด๐ฑ๐๐ '๐๐ฒ๐ธ๐ฝ๐ถ'
๐๐๐ซ๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ง๐ฒ๐๐๐ฎ๐ญ ๐๐๐ญ๐ '๐๐๐ข๐ง๐ ' ๐๐ข ๐๐ข๐ฉ๐๐ง๐๐๐ซ
Cipancar, selain namanya unik ternyata menyimpan berbagai mitos, boleh percaya atau tidak namun begitu adanya. Di Desa Cipancar ini ada larangan tidak boleh menyebut "ucing" atau "kucing" baik lisan maupun tulisan. Larangan tersebut menjadi kearifan lokal yang harus dijaga dan dihargai, dan menjadikan ciri khas yang unik di Desa Cipancar ini. Menyangkut dengan hal apa-apa yang di larang, orang sunda sering menyebutnya dengan kata "pamali", jika ada yang melanggar pantangan tersebut akan mendapatkan akibat buruk.
Larangan tersebut berlaku sejak tahun 1500-an, sebelum tahun tersebut boleh menyebut kata "ucing" atau "kucing". Larangan ini disampaikan secara turun-temurun dari mulut ke mulut, sehingga masyarakat Cipancar sudah terbiasa dengan larangan tersebut. Untuk menyebutkan nama "kucing" masyarakat Cipancar menggantinya dengan sebutan "enyeng".
Di Cipancar terdapat makam keramat leluhur desa Cipancar yang disebut dengan Eyang Tajur. Konon, pada zaman dahulu. Saat Eyang Tajur menjadi ahli pembuat gamelan, orang yang meminjam gamelan itu bilang "salira teh saha atuh? keur mah kasep, pinter-pinter teuing ngadamel gamelan?". Emosi Eyang Tajur memuncak, sebelumnya beliau mau menyebutkan "yakula siliwangi" sambil menepuk dada. Namun, beliau sadar, jika menyebutkan "yakula siliwangi" sambil menepuk dada, berarti dia sudah menyombongkan diri.
Eyang Tajur merupakan anak Prabu Siliwangi. Eyang Tajur tidak mau dikenal oleh orang yang meminjam gamelannya, dan takutnya siliwangi hancur dihina. Akhirnya, Eyang Tajur memplesetkan nama aslinya menjadi "yakula ucing". Karena hal tersebut, masyarakat Cipancar tidak berani menyebutkan "ucing" atau "kucing" untuk menghormati leluhur mereka. Jika, melanggar sama saja menyebutkan nama leluhur sendiri, dan tentunya tidak sopan. Sampai saat ini, makam Eyang Tajur ada di Tajur Desa Cipancar di dekat mata air Cipancar.
Apakah jika tidak sengaja menyebut nama "ucing" akan mendatangkan akibat?
Tentu saja tidak, asal tidak diniatkan dalam hati untuk kesengajaan, karena tidak percaya akan adanya mitos ini. Jika, tidak sengaja menyebut "ucing" di dalam hati baca "wa nahnu aqrabu ilaihi min habl al-wariq" (Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, sesungguhnya hanya allah lah yang akan membalasnya, bukan leluhur).
Namun, konon katanya dulu pernah terjadi suatu kejadian yang berkaitan dengan mitos ini, ada sekelompok orang yang tidak percaya akan adanya mitos "dilarang menyebut uxing di Cipancar", sekelompok orang (satu orang) yang sengaja mampir di Tajur dan teriak "kucing", tidak lama dari itu mobilnya menghantam satu rumah dan mobil menimpa rumah. Ada beberapa korban, ada satu yang selamat, namun tidak lama setelah itu dia tabrakan di Cimalaka. Kejadian ini, termasuk ke dalam penghinaan, yang menghukum bukan Eyang Tajur, melainkan atas kehendak Allah, karena ada kesombongan di dalam diri kita. Jadi, tolong hargai budaya lokal, kearifan lokal, sebelum kita bertempat di suatu Desa harus mengetahui terlebih dahulu asal-usul Desa tersebut.
Komentar
Posting Komentar